|
History / Sejarah Silsilah Lands
|
Alun-alun Lor

Alun-alun
lor pada jaman dahulu
Pada saat ini, ruang luas rata berpasir dari
Alun-alun Utara telah diganti dengan ruang
rata yang berumput. Bahkan, tepat ditengah
membujur dari Utara ke Selatan sampai
Pagelaran, dibuat jalur jalan pedestrian
yang diperkuat oleh tanaman palem Raja.
Situasi dan kondisi ini adalah sangat
disayangkan, karena pada hakekatnya elemen
baru tersebut telah merusak dan
menghilangkan arti simbolistis Alun-alun
Utara itu sendiri, dimana pada awalnya
memiliki fungsi, antara lain:
-
Tempat berkumpul prajurid pada saat
akan berangkat perang.
-
Tempat berkumpul rakyat kerajaan
pada saat mendengarkan pengumuman
pengumuman penting atau
Undang-undang dari Raja.
-
Tempat untuk latihan perang.
-
Tempat rampokan (aduan hewan dengan
hewan atau dengan manusia).
-
Tempat rakyat jelata ataupun sentono
dalem dan abdi dalem melakukan topo
pepe (duduk diam diantara dua pohon
beringin ditengah alun-alun, untuk
dapat dilihat dan dipanggil
menghadap raja, sebagai upaya
mencari keadilan langsung, atau
mohon ampun langsung kepada raja).
-
Disebut dengan istilah alun-alun,
karena diwaktu siang hari disaat
sinar matahari panas membakar,
tempat tersebut terlihat bergetar
bagai ombak mengalun (bahasa Jawa:
amun-amun apindo alun). Ada juga
pengertian bahwa alun-alun, dari
asal kata jawa alon-alon atau
berjalan lambat-lambat atau sabar.
Di area Alun-alun Utara, terdapat pasang
pohon beringin kembar, antara lain:
-
Dua buah beringin kembar terletak
disebelah selatan Gapura Pamurakan
yang dikelilingi masing masing oleh
pagar tembok dan besi berwujud segi
delapan. Pohon beringin disebelah
Timur dinamakan Waringin Wok (beringin
perempuan), tempat istirahat para
prajurit Bang Wetan; dan disebelah
Barat diberi nama Waringin Godeg
atau Jenggot (laki-laki), tempat
istirahat para prajurid Bang
Kulon.Kedua beringin tersebut
merupakan simbol peringatan bahwa
asal kehidupan diciptakan
Allah melalui pria dan wanita (ayah
dan ibu), sehingga manusia ada.
Sehingga dua pohon beringin tersebut
juga merupakan lambang dari
kesuburan.
-
Dua pohon beringin kembar terletak
tepat ditengah Alun-alun Utara, yang
dikenal sebagai Waringin Kurung
Sakembaran. Disebut kurung, karena
masing masing pohon diberi batas
berupa jeruji besi disekitarnya.
Pohon beringin sebelah Timur
dinamakan Kyai Jayandaru (sinar
kemenangan) dan beringin disebelah
Barat diberi nama Kyai Dewandaru (sinar
Illahi atau sinar keluhuran). Kedua
beringin ini merupakan beringin yang
dibawa dari karaton lama, pada saat
perpindahan karaton dari Kartosura
ke Surakarta.
Ringin Kurung Sakembaran mempunyai arti
simbolistis:
-
Kesempurnaan hidup yang harus
dicapai manusia.
-
Kemenangan dan keluhuran.
-
Kekuasaan dan kebijaksanaan raja (hayom,
hayem, dan hayu).
-
Pangayoman hukum.
Dengan kata lain, makna tersebut dapat
diartikan bahwa manusia harus benar-benar
sudah dapat menghilangkan atau mengekang
nafsu pribadinya, sehingga dapat mencapai
tingkat jaya (kemenangan dalam mencapai
hidup sejati). Hal ini diyakini karena bagi
manusia yang telah mencapai tingkat
kesempurnaan tersebut, dia akan selalu
disinari oleh sinar Illahi (keluhuran budi
pekerti).
-
Berkaitan dengan mitos Jawa, di
dalam kehidupan masyarakat Surakarta
tumbuh kepercayaan-keperyaan
mengenai Ringin Sakembaran, antara
lain:
Apabila seseorang mendapatkan daun
beringin kurung sakembaran tersebut
dua buah yang jatuh ke tanah, satu
jatuh menghadap keatas dan satu
jatuh menghadap kebawah (godong
mlumah-kurep), maka benda tersebut
dapat dipakai sebagai pusaka atau
jimat yang membawa berkah selamat.
-
Apabila seseorang melakukan tirakat
atau prihatin (meditasi) dibawah
pohon beringin tersebut, atau
berjalan mengelilingi sebanyak 7
kali, apa yang menjadi kehendaknya
akan terkabulkan.
Dua pohon beringin kembar yang berada
dibatas ruang Alun-alun Utara sebelah
Selatan, pohon beringin sebelah Timur
disebut Waringin Gung (tinggi), dan yang
sebelah Barat disebut Waringin Binatur (pendek),
yang mengandung arti simbolis bahwa Karaton
Surakarta adalah duwur tan
ngungkul-ngungkuli, andap tan keno
kinungkulan (tinggi yang tak berlebihan, dan
rendah tetapi tidak boleh ada yang
meremehkan).
|
|