Bangsal Witono

Bangsal Witono di Sitihinggil
Di bagian belakang dari Bangsal
Mangunturtangkil, terdapat bangsal besar
terbuka, dengan orientasi ke empat arah mata
angin (Keblat Pajupat), dengan citra
arsitektur tajug (seperti Masjid, akan
tetapi tidak memakai gulu meled) yang diberi
nama Bangsal Witono. Pada awalnya, bangsal
ini dibuat oleh PB III, yang kemudian
dibangun kembali oleh PB IX yang ditandai
oleh candrosengkolo yang berbunyi Inggiling
Sitihinggil Kaesti Ratu, yang menunjuk tahun
1810 Jawa.
Bangsal Witono berfungsi sebagai tempat
duduk para abdi dalem putri, para bedaya (penari),
manggung, ketanggung, jaka palara-lara,
emban, inya, ceti, parekan yang membawa
syarat-syarat upacara raja disaat duduk di
Singgasana Sitihinggil. Adapun materi
upacara yang dibawa di dalam upacara
tersebut, antara lain berujud: banyak dalang,
sawunggaling, kukutuk mino, arda walika,
yang kesemuanya dibuat dari emas; juga
talempak, towok, tameng, pedang, panah,
bramastra dan senjata senjata yang lain.
Dilihat dari fungsinya, ada sedikit
perbedaan Bangsal Witono pada jaman Karaton
Surakarta dengan jaman Karaton Demak Bintoro.
Pada zaman Kraton Demak Bintoro, bangsal
Witono dijadikan tempat musyawarah dari
Sultan dengan Wali Songo. Nama Witono
sendiri, sebenarnya berasal dari bahasa Arab
Bachasal Watona, yang berarti musyawarah
memperbincangkan tanah air dan bangsa.
Disebelah Timur Bangsal Sewoyono dan Witono,
terdapat dua bangunan bangsal, yaitu Fungsi
keseharian dari Bangsal Gandekan Tengen
adalah sebagai tempat para abdi dalem
Agandek, dan bila saat upacara garebeg dan
sebagainya, bangsal tersebut untuk tempat
gamelan yang dibunyikan dalam upacara
menghormati kedatangan Raja dengan irama
kodok ngorek dengan Gong Kyai Sekardelima.
Sedangkan untuk Bangsal Angun-angun memiliki
fungsi untuk tempat membunyikan gamelan Gong
Kyai Surak dan Kyai Kanigoro. Khusus untuk
Bangsal Angun-angun ini sekarang, setiap
hari Sabtu sore untuk, digunakan sebagai
tempat membunyikan gamelan monggang patalon
Kyai Singopuro.