New Page 1


History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 

Masjid Agung


Pintu Masuk Mesjid Agung

Selanjutnya, masih disekitar Alun-alun Utara, tepatnya dibagian Barat Alun-alun Utara, tepat pada as kearah Barat dari titik lokasi Ringin Kurung Sakembaran yang berada ditengah Alun-alun Utara, terdapat sebuah masjid yang memiliki bentuk arsitektur Jawa. Masjid ini diberi nama Masjid Agung Surokarto Hadiningrat. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan PB IV, yang kemudian disempurnakan pada masa pemerintahan PB X.

Pintu masuk Masjid Agung, semula bercorak Gapura bangunan Jawa beratap Limasan, tetapi kemudian pada zaman PB.X dirubah menjadi corak Arab Persia, terdiri dari tiga pintu utama, dengan pintu tengah lebih luas dari dua pintu yang mengapitnya.

Dari pintu tengah, terdapat jalan setapak ke Barat menuju serambi Masjid. Disekeliling serambi sebelah Utara, Timur dan Selatan, terdapat penurunan lantai berisi air, hal ini dimaksudkan agar orang yang akan masuk masjid melewati daerah tersebut kakinya menjadi bersih. Sedikit berbeda dan sangat disayangkan, untuk dibagian topengan atau jalan masuk yang diberi atap sebelah Timur, area berair tersebut diberi jembatan beton, sehingga orang yang masuk masjid melalui jalan ini tidak mengalami penyucian kaki dari area berair yang disediakan. 

Pada awalnya pucuk atap masjid Agung dibuat dari emas. Akan tetapi karena bagian tersebut pernah dicuri sehingga tinggal separo, sehingga pada jaman PB X, pucuk atap tersebut dibangun kembali dengan bahan bukan dari emas.

Tempat wudhu berada di sebelah Utara masjid, tepatnya di sebelah Utara dari tempat sholat putri yang berada di bagian Utara bangunan masjid. Pada awalnya tempat wudhu yang disediakan adalah berupa kolam air yang luas. Akan tetapi karena kemudian kolam tersebut menjadi sarang nyamuk dan mendatangkan penyakit, maka kolam tersebut dikosongkan. Sebagai gantinya, dibangun tempat wudhu di sebelah Utara serambi masjid dengan menggunakan air dari PDAM (Perusahaan daerah Air Minum) Surakarta.

Berdekatan dengan tempat wudhu, terdapat menara Adzan tinggi menjulang. Hal ini mengingatkan pada bentuk PALUS atau LINGGA yang merupakan simbol dari PRIA, sedangkan kolam yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat wudhu adalah merupakan lambang dari YONI atau WANITA. Perpaduan dari dua simbol tersebut adalah merupakan lambang dari kesuburan dan asal kejadian.

Dihalaman Masjid arah Utara-Timur dan Selatan-Timur,  masing masing  terdapat bangsal yang berfungsi bagi tempat membunyikan gamelan sekaten setiap tanggal 5 sampai 12 Maulud, untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti komplek-komplek masjid Jawa pada umumnya, dibagian belakang Masjid Agung ini juga terdapat kompleks pemakaman. Salah satu diantaranya adalah makam KPH. Noto Kusumo, Putra PB.III. Komplek masjid agung ini selain memiliki gapura utama, yang berada di sebelah Timur, juga memiliki dua pintu keluar samping yang berada di sebelah Utara dan selatan. Sama seperti gapura utama, pintu keluar samping komplek ini memiliki corak Arab Persi.

Bentuk atap bangunan induk dari Masjid Agung Surokarto ini memiliki corak yang sama dengan bangunan-bangunan suci Islam lainnya, yaitu bentuk atap tajug. Di Jawa, bentuk atap tajug adalah merupakan ciri khas bentuk atap yang digunakan untuk bangunan-bangunan suci, antara lain masjid dan makam. 
Keseluruhan atap Masjid Agung Surakarta memiliki empat tingkat. Tiga susunan pertama adalah berupa atap tajug, dan susunan keempat adalah merupakan puncak atau kepala atap, yang pada awalnya seprti telah disinggung didepan, bagian ini dibuat dari bahan  emas. Di dalam keIslaman hal tersebut mengandung simbol tingkatan ibadah umat kepada Allah, yaitu:
1. SYARIAT, disimbolkan dengan tingkatan atap tajug yang pertama.
2. TAREKAT, disimbolkan dengan tingkatan atap tajug yang kedua.
3. HAKEKAT, disimbolkan dengan tingkatan atap tajug yang ketiga.
4. MAKRIFAT, disimpulan dengan kepala atap, yang dulunya terbuat dari emas.

 
 

© Copyright Karaton Surakarta