Selanjutnya, masih disekitar Alun-alun
Utara, tepatnya dibagian Barat Alun-alun
Utara, tepat pada as kearah Barat dari titik
lokasi Ringin Kurung Sakembaran yang berada
ditengah Alun-alun Utara, terdapat sebuah
masjid yang memiliki bentuk arsitektur Jawa.
Masjid ini diberi nama Masjid Agung
Surokarto Hadiningrat. Masjid ini dibangun
pada masa pemerintahan PB IV, yang kemudian
disempurnakan pada masa pemerintahan PB X.
Pintu masuk Masjid Agung, semula bercorak
Gapura bangunan Jawa beratap Limasan, tetapi
kemudian pada zaman PB.X dirubah menjadi
corak Arab Persia, terdiri dari tiga pintu
utama, dengan pintu tengah lebih luas dari
dua pintu yang mengapitnya.
Dari pintu tengah, terdapat jalan setapak ke
Barat menuju serambi Masjid. Disekeliling
serambi sebelah Utara, Timur dan Selatan,
terdapat penurunan lantai berisi air, hal
ini dimaksudkan agar orang yang akan masuk
masjid melewati daerah tersebut kakinya
menjadi bersih. Sedikit berbeda dan sangat
disayangkan, untuk dibagian topengan atau
jalan masuk yang diberi atap sebelah Timur,
area berair tersebut diberi jembatan beton,
sehingga orang yang masuk masjid melalui
jalan ini tidak mengalami penyucian kaki
dari area berair yang disediakan.
Pada awalnya pucuk atap masjid Agung dibuat
dari emas. Akan tetapi karena bagian
tersebut pernah dicuri sehingga tinggal
separo, sehingga pada jaman PB X, pucuk atap
tersebut dibangun kembali dengan bahan bukan
dari emas.
Tempat wudhu berada di sebelah Utara masjid,
tepatnya di sebelah Utara dari tempat sholat
putri yang berada di bagian Utara bangunan
masjid. Pada awalnya tempat wudhu yang
disediakan adalah berupa kolam air yang
luas. Akan tetapi karena kemudian kolam
tersebut menjadi sarang nyamuk dan
mendatangkan penyakit, maka kolam tersebut
dikosongkan. Sebagai gantinya, dibangun
tempat wudhu di sebelah Utara serambi masjid
dengan menggunakan air dari PDAM (Perusahaan
daerah Air Minum) Surakarta.
Berdekatan dengan tempat wudhu, terdapat
menara Adzan tinggi menjulang. Hal ini
mengingatkan pada bentuk PALUS atau LINGGA
yang merupakan simbol dari PRIA, sedangkan
kolam yang pada awalnya difungsikan sebagai
tempat wudhu adalah merupakan lambang dari
YONI atau WANITA. Perpaduan dari dua simbol
tersebut adalah merupakan lambang dari
kesuburan dan asal kejadian.
Dihalaman Masjid arah Utara-Timur dan
Selatan-Timur, masing masing terdapat
bangsal yang berfungsi bagi tempat
membunyikan gamelan sekaten setiap tanggal 5
sampai 12 Maulud, untuk memperingati hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seperti komplek-komplek masjid Jawa pada
umumnya, dibagian belakang Masjid Agung ini
juga terdapat kompleks pemakaman. Salah satu
diantaranya adalah makam KPH. Noto Kusumo,
Putra PB.III. Komplek masjid agung ini
selain memiliki gapura utama, yang berada di
sebelah Timur, juga memiliki dua pintu
keluar samping yang berada di sebelah Utara
dan selatan. Sama seperti gapura utama,
pintu keluar samping komplek ini memiliki
corak Arab Persi.
Bentuk atap bangunan induk dari Masjid Agung
Surokarto ini memiliki corak yang sama
dengan bangunan-bangunan suci Islam lainnya,
yaitu bentuk atap tajug. Di Jawa, bentuk
atap tajug adalah merupakan ciri khas bentuk
atap yang digunakan untuk bangunan-bangunan
suci, antara lain masjid dan makam.
Keseluruhan atap Masjid Agung Surakarta
memiliki empat tingkat. Tiga susunan pertama
adalah berupa atap tajug, dan susunan
keempat adalah merupakan puncak atau kepala
atap, yang pada awalnya seprti telah
disinggung didepan, bagian ini dibuat dari
bahan emas. Di dalam keIslaman hal tersebut
mengandung simbol tingkatan ibadah umat
kepada Allah, yaitu:
1. SYARIAT, disimbolkan dengan tingkatan
atap tajug yang pertama.
2. TAREKAT, disimbolkan dengan tingkatan
atap tajug yang kedua.
3. HAKEKAT, disimbolkan dengan tingkatan
atap tajug yang ketiga.
4. MAKRIFAT, disimpulan dengan kepala atap,
yang dulunya terbuat dari emas.