-
Wijiling wicoro tatag tanggon
hanggayuh sampurnaning hurip =
Sumpah seseorang
yang bertekad untuk mencapai
kesempurnaan hidupnya.
-
Awas emut tansah hanjogo wijiling
wicoro, ojo nganti katalompen =
Jagalah bicaramu, agar apapun yang
diucapkan selalu baik dan
menenteramkan.
Setelah melalui Kori
Wijil, sampailah berikutnya ke halaman
Sitihinggil, yaitu suatu halaman dari tempat
yang ditinggikan menyerupai gunung kecil
atau punggung kura-kura. Hal tersebut
sesuai dengan nama Sitihinggil itu sendiri
yang berasal dari bentukan dua kata Jawa
siti yang berarti tanah dan inggil yang
berarti tinggi. Untuk meninggikan tanah pada
kawasan tersebut, konon dengan menggunakan
tanah yang diambilkan dari daerah Tolowangi,
yaitu daerah yang tanahnya harum.
Kawasan tersebut sebenarnya memiliki nama
lengkap Sitihinggil Palenggahaning Ratu,
yang mengandung maksud Condro Sengkolo
menunjuk kepada tahun pembuatan 1701 Jawa
atau 1766 Masehi, jaman PB III.
Secara fisik, batas Utara
Sitihinggil adalah pagar jeruji besi, dimana
disepanjang pagar besi tersebut diletakkan
beberapa meriam yang menghadap ke Utara.
Jumlah keseluruhan meriam tersebut adalah 8
buah, yang masing-masing diberi nama urut
dari arah Barat ke Timur, sebagai
berikut:Disebelah Selatan Kori Wijil,
terdapat sebuah bangunan bangsal besar yang
memiliki konstruksi besi baja, atap seng,
dan kolom-kolom yang hanya ditepi bangunan.
Bangsal tersebut diberi nama BANGSAL
SEWOYONO, yaitu bangsal yang berfungsi
sebagai tempat pisowanan atau menghadap raja
pada saat Garebeg atau perayaan hari besar,
dimana bagi para Pangeran, Putra, Sentono
(keluarga raja), dan Abdi Dalem Bupati,
Bupati Anom, menempati sisi sebelah Timur,
sedangkan KGPAA.Mangkunegoro, para Pimpinan
Belanda, Tionghoa, Arab, Para Opsir
Mangkunegaran, serta tamu Belanda dari
Onderneming menempati sisi sebelah Barat.
-
Mriyem Kyai Bringsing, hadiah dari
negara Siam.
-
Mriyem Kyai Bagus, hadiah dari
Jendral Van Der Lin.
-
Mriyem Kyai Nangkulo, hadiah dari
VOC.
-
Mriyem Kyai Kumborowo, asal dari
Karaton Mataram.
-
Mriyem Kyai Kumborawi, asal dari
kraton Mataram (disini terdapat
tulisan Jawa yang ditatahkan pada
mriyem, yang berbunyi: Aswani
Kumbo).
-
Mriyem Kyai Sadewo, hadiah dari VOC.
-
Mriyem Kyai Alus, hadiah Jendral Van
Der Lin.
-
Mriyem Kyai Kadal Buntung, atau Kyai
Pamecut, atau Kyai Kumali.
Nama Sewoyono mengandung
arti sebagai tempat duduk yang terang (sewo
= duduk; dan yono = terang), dimana bangsal
tersebut merupakan tempat duduk terbuka yang
dapat melihat sampai jauh keluar ruangan.
Bangsal Sewoyono tersebut
dibuat oleh PB X pada tahun 1843 Jawa, yang
hampir bersamaan dengan pembangunan Bangsal
Sasonosumewo, Gapura Gading dan sebagainya,
yang pada awalnya, bangsal tersebut hanya
berupa bangunan dengan kolom kayu, atap
gedeg (anyaman bambu), dan lantai dari
pasir.
Masih di dalam Bangsal
Sewoyono, dibagian Selatan, terdapat bangsal
kecil menghadap ke Utara yang diberi nama
Bangsal Manguntur Tangkil, yaitu suatu
bangsal kecil dengan citra bangunan limasan
ceblokan yang disangga empat tiang. Bangsal
ini berfungsi sebagai tempat duduk Raja saat
menerima para pimpinan seperti yang telah
tersebut diatas. Pada jaman itu, apabila di
dalam acara yang diselenggarakan terdapat
tamu bangsa Belanda (Gubernur atau Residen
Belanda), mereka dipersilakan duduk
disebelah kiri Raja.
Pada masa itu, keberadaan
Raja di Sitihinggil adalah pada setiap hari
Senin dan Kamis, yaitu hari-hari yang
dianggap suci bagi masyarakat Jawa. Selain
hari-hari tersebut, juga pada saat Raja akan
memberikan suatu keputusan dari suatu
permasalahan penting, karenanya bangsal ini
juga disebut dengan nama BANGSAL PONCONITI,
karena pada saat memutuskan sesuatu,
biasanya selalu diputuskan berdasarkan
musyawarah lima pimpinan, antara lain: Raja
selaku pimpinan musyawarah, Pepatih sebagai
jaksa, Pujangga sebagai griffier, Pengulu
dan Senopati sebagai Anggota.
Ditengah Bangsal
Mangunturtangkil terdapat batu persegi yang
ditanam rata dengan tegel lantai (tetapi
masih kelihatan), dimana batu ini merupakan
batu pusaka peninggalan dari Kerajaan
Jenggala yang pada jaman itu merupakan
tempat duduk Prabu Suryowiseso (Panji Hinu
Kertapati).
Di bagian belakang dari
Bangsal Mangunturtangkil, terdapat bangsal
besar terbuka, dengan orientasi ke empat
arah mata angin (Keblat Pajupat), dengan
citra arsitektur tajug (seperti Masjid, akan
tetapi tidak memakai gulu meled) yang diberi
nama Bangsal Witono. Pada awalnya, bangsal
ini dibuat oleh PB III, yang kemudian
dibangun kembali oleh PB IX yang ditandai
oleh candrosengkolo yang berbunyi Inggiling
Sitihinggil Kaesti Ratu, yang menunjuk tahun
1810 Jawa.
Bangsal Witono berfungsi
sebagai tempat duduk para abdi dalem putri,
para bedaya (penari), manggung, ketanggung,
jaka palara-lara, emban, inya, ceti, parekan
yang membawa syarat-syarat upacara raja
disaat duduk di Singgasana Sitihinggil.
Adapun materi upacara yang dibawa di dalam
upacara tersebut, antara lain berujud:
banyak dalang, sawunggaling, kukutuk mino,
arda walika, yang kesemuanya dibuat dari
emas; juga talempak, towok, tameng, pedang,
panah, bramastra dan senjata senjata yang
lain.
Dilihat dari fungsinya,
ada sedikit perbedaan Bangsal Witono pada
jaman Karaton Surakarta dengan jaman Karaton
Demak Bintoro. Pada zaman Kraton Demak
Bintoro, bangsal Witono dijadikan tempat
musyawarah dari Sultan dengan Wali Songo.
Nama Witono sendiri, sebenarnya berasal dari
bahasa Arab Bachasal Watona, yang berarti
musyawarah memperbincangkan tanah air dan
bangsa.
Disebelah Timur Bangsal Sewoyono dan Witono,
terdapat dua bangunan bangsal, yaitu Bangsal
Gandekan Tengen dibagian Utara, dan Bangsal
Angun-angun dibagian Selatan.
Fungsi keseharian dari
Bangsal Gandekan Tengen adalah sebagai
tempat para abdi dalem Agandek, dan bila
saat upacara garebeg dan sebagainya, bangsal
tersebut untuk tempat gamelan yang
dibunyikan dalam upacara menghormati
kedatangan Raja dengan irama kodok ngorek
dengan Gong Kyai Sekardelima. Sedangkan
untuk Bangsal Angun-angun memiliki fungsi
untuk tempat membunyikan gamelan Gong Kyai
Surak dan Kyai Kanigoro. Khusus untuk
Bangsal Angun-angun ini sekarang, setiap
hari Sabtu sore untuk, digunakan sebagai
tempat membunyikan gamelan monggang patalon
Kyai Singopuro.
Disebelah barat bangsal
Sewoyono dan Witono juga terdapat dua buah
bangsal yang lain, yaitu: bangsal sebelah
Utara bernama Bangsal Gandekan Kiwo dan
bangsal sebelah Selatan bernama Bangsal
Balebang.
Masih di wilayah
Sitihinggil, khususnya di halaman
Sitihinggil bagian Utara, terdapat tanaman
pohon Angsoka yang ditanam berbaris kearah
Timur, sedangkan pada bagian Barat halaman,
terdapat tanaman pohon berjajar kearah
Selatan, yang pada masa itu tanaman yang
ditanam adalah pohon Blimbing Lingir, Gayam,
dan Kepel Watu. Dan untuk disebelah Timur,
dari arah Utara ke Selatan, ditanam pohon
Mangga atau Mempelam, pohon Jambu Klampok,
dan pohon Kepel Gedang. Pohon pohon
tersebut sekarang ini telah banyak yang
diganti dengan pohon lain yang indah dan
teduh. Sedangkan pohon-pohon yang masih
dipertahankan ada ialah pohon Angsoka, Kepel
Watu, dan Kepel Gedang.
Jenis-jenis tanaman yang
ditanam dan tersebut diatas bukanlah tanpa
makna, akan tetapi masing-masing memiliki
makna simbolis sebagai berikut:
-
Pohon Angsoka - kaya akan
kegembiraan
-
Pohon Blimbing - baliyo ing tembing
(kembalilah seperti semula, suci)
-
Pohon Gayam (ayem) - tenteram
-
Pohon Kepel Watu - samiyo anyingkiri
pangesti kang awon utawi kang sanes
samestinipun (jangan melaksanakan
langkah yang buruk atau yang tidak
semestinya)
-
Pohon Mempelam, Jambu Klampok, Kepel
Gedang - gelemo akeklumpuk kepelan
gedang (berupayalah yang berdaya
guna dan berhasil guna)