New Page 1


History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 

Sitihinggil Binoto Waroto


Tampak Sitihinggil

Dari Bangsal Pagelaran Sasonosumewo, terdapat jalan bertangga kearah Selatan, dimana ditengah tangga terdapat sebuah batu persegi yang ditanam rata dengan plesteran lantai tangga, yang diberi nama SELO PAMECAD. Konon batu tersebut dibawa dari Karaton Kartosuro, dimana menurut ceritera, batu tadi merupakan batu yang dipergunakan untuk landasan memecah kepala Trunojoyo, seorang pemberontak dari Madura pada tahun 1680 M. selain itu, batu tersebut juga pernah dipakai untuk landasan memecah kepala Sandiman, seorang abdi dari Kanjeng Pangeran Balater yang memberontak dan membuat kerusuhan besar. 
 

Dibagian akhir dari tangga naik, terdapat pintu atau kori yang diberi nama Kori Wijil. Kori tersebut memakai tutup pintu jeruji besi yang bisa digeser. Kata Wijil, sebenarnya berasal dari kata Mijil, yang berarti keluar atau muncul, sehingga nama Kori Mijil bisa diartikan sebagi pintu tempat keluar dari Pagelaran untuk masuk kedalam kawasan Sitihinggil, sedangkan makna simbolistis kebatinan Jawa yang dikandung adalah:

  • Wijiling wicoro tatag tanggon hanggayuh sampurnaning hurip = Sumpah seseorang
    yang bertekad untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.
  • Awas emut tansah hanjogo wijiling wicoro, ojo nganti katalompen = Jagalah bicaramu, agar apapun yang diucapkan selalu baik dan menenteramkan.

Setelah melalui Kori Wijil, sampailah berikutnya ke halaman Sitihinggil, yaitu suatu halaman dari tempat yang ditinggikan menyerupai gunung kecil atau punggung kura-kura.  Hal tersebut sesuai dengan nama Sitihinggil itu sendiri yang berasal dari bentukan dua kata Jawa siti yang berarti tanah dan inggil yang berarti tinggi. Untuk meninggikan tanah pada kawasan tersebut, konon dengan menggunakan tanah yang diambilkan dari daerah Tolowangi, yaitu daerah yang tanahnya harum. 
Kawasan tersebut sebenarnya memiliki nama lengkap Sitihinggil Palenggahaning Ratu, yang mengandung maksud Condro Sengkolo menunjuk kepada tahun pembuatan 1701 Jawa atau 1766 Masehi, jaman PB III.

Secara fisik, batas Utara Sitihinggil adalah pagar jeruji besi, dimana disepanjang pagar besi tersebut diletakkan  beberapa meriam yang  menghadap ke Utara. Jumlah keseluruhan meriam tersebut adalah 8 buah, yang masing-masing diberi nama urut dari arah Barat ke Timur, sebagai berikut:Disebelah Selatan Kori Wijil, terdapat sebuah bangunan bangsal besar yang memiliki konstruksi besi baja, atap seng, dan kolom-kolom yang hanya ditepi bangunan. Bangsal tersebut diberi nama BANGSAL SEWOYONO, yaitu bangsal yang berfungsi sebagai tempat pisowanan atau menghadap raja pada saat Garebeg atau perayaan hari besar, dimana bagi para Pangeran, Putra, Sentono (keluarga raja), dan Abdi Dalem Bupati, Bupati Anom, menempati sisi sebelah Timur, sedangkan KGPAA.Mangkunegoro, para Pimpinan Belanda, Tionghoa, Arab, Para Opsir 
Mangkunegaran, serta tamu Belanda dari Onderneming menempati sisi sebelah Barat.

  • Mriyem Kyai Bringsing, hadiah dari negara Siam.
  • Mriyem Kyai Bagus, hadiah dari Jendral Van Der Lin.
  • Mriyem Kyai Nangkulo, hadiah dari VOC.
  • Mriyem Kyai Kumborowo, asal dari Karaton Mataram.
  • Mriyem Kyai Kumborawi, asal dari kraton Mataram (disini terdapat tulisan Jawa yang ditatahkan pada mriyem, yang berbunyi: Aswani Kumbo).
  • Mriyem Kyai Sadewo, hadiah dari VOC.
  • Mriyem Kyai Alus, hadiah Jendral Van Der Lin.
  • Mriyem Kyai Kadal Buntung, atau Kyai Pamecut, atau Kyai Kumali.

Nama Sewoyono mengandung arti sebagai tempat duduk yang terang (sewo = duduk; dan yono = terang), dimana bangsal tersebut merupakan tempat duduk terbuka yang dapat melihat sampai jauh keluar ruangan.

Bangsal Sewoyono tersebut dibuat oleh PB X pada tahun 1843 Jawa, yang hampir bersamaan dengan pembangunan Bangsal Sasonosumewo, Gapura Gading dan sebagainya, yang pada awalnya, bangsal tersebut hanya berupa bangunan dengan kolom kayu, atap gedeg (anyaman bambu), dan lantai dari pasir.

Masih di dalam Bangsal Sewoyono, dibagian Selatan, terdapat bangsal kecil menghadap ke Utara yang diberi nama Bangsal Manguntur Tangkil, yaitu suatu bangsal kecil dengan citra bangunan limasan ceblokan yang disangga empat tiang. Bangsal ini berfungsi sebagai tempat duduk Raja saat menerima para pimpinan seperti yang telah tersebut diatas. Pada jaman itu, apabila di dalam acara yang diselenggarakan terdapat tamu bangsa Belanda (Gubernur atau Residen Belanda), mereka dipersilakan duduk disebelah kiri Raja. 

Pada masa itu, keberadaan Raja di Sitihinggil adalah pada setiap hari Senin dan Kamis, yaitu hari-hari yang dianggap suci bagi masyarakat Jawa. Selain hari-hari tersebut, juga pada saat Raja akan memberikan suatu keputusan dari suatu permasalahan penting, karenanya bangsal ini juga disebut dengan nama BANGSAL PONCONITI, karena pada saat memutuskan sesuatu, biasanya selalu diputuskan berdasarkan musyawarah lima pimpinan, antara lain: Raja selaku pimpinan musyawarah, Pepatih sebagai jaksa, Pujangga sebagai griffier, Pengulu dan Senopati sebagai Anggota.

Ditengah Bangsal Mangunturtangkil terdapat batu persegi yang ditanam rata dengan tegel lantai (tetapi masih kelihatan), dimana batu ini merupakan batu pusaka peninggalan dari Kerajaan Jenggala yang pada jaman itu merupakan tempat duduk Prabu Suryowiseso (Panji Hinu Kertapati).

Di bagian belakang dari Bangsal Mangunturtangkil, terdapat bangsal besar terbuka, dengan orientasi ke empat arah mata angin (Keblat Pajupat), dengan citra arsitektur tajug (seperti Masjid, akan tetapi tidak memakai gulu meled) yang diberi nama Bangsal Witono. Pada awalnya, bangsal ini dibuat oleh PB III, yang kemudian dibangun kembali oleh PB IX yang ditandai oleh candrosengkolo yang berbunyi Inggiling Sitihinggil Kaesti Ratu, yang menunjuk tahun 1810 Jawa.

Bangsal Witono berfungsi sebagai tempat duduk para abdi dalem putri, para bedaya (penari), manggung, ketanggung, jaka palara-lara, emban, inya, ceti, parekan yang membawa syarat-syarat upacara raja disaat duduk di Singgasana Sitihinggil. Adapun materi upacara yang dibawa di dalam upacara tersebut, antara lain berujud: banyak dalang, sawunggaling, kukutuk mino, arda walika, yang kesemuanya dibuat dari emas; juga talempak, towok, tameng, pedang, panah, bramastra dan senjata senjata yang lain.

Dilihat dari fungsinya, ada sedikit perbedaan Bangsal Witono pada jaman Karaton Surakarta dengan jaman Karaton Demak Bintoro. Pada zaman Kraton Demak Bintoro, bangsal Witono dijadikan tempat musyawarah dari Sultan dengan Wali Songo. Nama Witono sendiri, sebenarnya berasal dari bahasa Arab Bachasal Watona, yang berarti  musyawarah memperbincangkan tanah air dan bangsa. 
Disebelah Timur Bangsal Sewoyono dan Witono, terdapat dua bangunan bangsal, yaitu Bangsal Gandekan Tengen dibagian Utara, dan Bangsal Angun-angun dibagian Selatan.

Fungsi keseharian dari Bangsal Gandekan Tengen adalah sebagai tempat para abdi dalem Agandek, dan bila saat upacara garebeg dan sebagainya, bangsal tersebut untuk tempat gamelan yang dibunyikan dalam upacara menghormati kedatangan Raja dengan irama kodok ngorek dengan Gong Kyai Sekardelima. Sedangkan untuk Bangsal Angun-angun memiliki fungsi untuk tempat membunyikan gamelan Gong Kyai Surak dan Kyai Kanigoro. Khusus untuk Bangsal Angun-angun ini sekarang, setiap hari Sabtu sore untuk, digunakan sebagai tempat membunyikan gamelan monggang patalon Kyai Singopuro.

Disebelah barat bangsal Sewoyono dan Witono juga terdapat dua buah bangsal yang lain, yaitu: bangsal sebelah Utara bernama Bangsal Gandekan Kiwo dan bangsal sebelah Selatan bernama Bangsal Balebang.

Masih di wilayah Sitihinggil, khususnya di halaman Sitihinggil bagian Utara, terdapat tanaman pohon Angsoka yang ditanam berbaris kearah Timur, sedangkan pada bagian Barat halaman, terdapat tanaman pohon berjajar kearah Selatan, yang pada masa itu tanaman yang ditanam adalah pohon Blimbing Lingir, Gayam, dan Kepel Watu. Dan untuk disebelah Timur, dari arah Utara ke Selatan, ditanam pohon Mangga atau Mempelam, pohon Jambu Klampok, dan pohon Kepel Gedang.  Pohon pohon tersebut sekarang ini telah banyak yang diganti dengan pohon lain yang indah dan teduh. Sedangkan pohon-pohon yang masih dipertahankan ada ialah pohon Angsoka, Kepel Watu, dan Kepel Gedang.

Jenis-jenis tanaman yang ditanam dan tersebut diatas bukanlah tanpa makna, akan tetapi masing-masing memiliki makna simbolis sebagai berikut:

  • Pohon Angsoka - kaya akan kegembiraan
  • Pohon Blimbing - baliyo ing tembing (kembalilah seperti semula, suci)
  • Pohon Gayam (ayem) - tenteram
  • Pohon Kepel Watu - samiyo anyingkiri pangesti kang awon utawi kang sanes samestinipun (jangan melaksanakan langkah yang buruk atau yang tidak semestinya)
  • Pohon Mempelam, Jambu Klampok, Kepel Gedang - gelemo akeklumpuk kepelan gedang (berupayalah yang berdaya guna dan berhasil guna)
 
 

© Copyright Karaton Surakarta