Srimanganti adalah suatu kawasan yang
terletak di sebelah Selatan Kamandungan.
Srimangati adalah bentukan kata dari sri,
yang berarti ratu, dan manganti, yang
berarti menunggu. Sehingga dari namanya,
tempat tersebut adalah tempat tunggu yang
digunakan raja untuk menyambut tamu
agungnya, atau juga dapat diartikan sebagai
tempat tunggu bagi tamu, sebelum
dipersilakan masuk ke dalam Karaton Dalem.
Halaman Srimangati, yang merupakan space
penerima, dapat dicapai dari Kori
Kamandungan menuju ke arah Selatan. Pada
bagian Barat halaman Srimangati ini,
terdapat bangunan besar menghadap ke Timur
yang dinamakan Bangsal Marakata atau
Smarakata, dimana nama lengkapnya adalah
Bangsal Asmarakata. Kata asmarakata sendiri
memiliki arti sebagai dawuh kang nengsemake
atau perkataan yang menyenangkan. Istilah
tersebut berasal dari bahasa Arab, marocog
coto, yang berarti melestarikan apa adanya
apapun yang telah digariskan atau
ditakdirkan untuk terjadi.
Bangunan bangsal tersebut berfungsi sebagai
tempat para Abdi Dalem Bupati Lebet yang
akan menghadap Raja, dan juga sebagai tempat
untuk pemberian hadian atau penghargaan bagi
Para Abdi Dalem Lebet, serta untuk mewisuda
para Abdi Dalem Panewu Mantri.
Dibagaian Timur halaman Srimanganti,
terdapat bangunan besar menghadap ke
Barat (bersebelahan dengan
Bangsal Smarakata), yang diberi nama Bangsal
Mercukundo. Bangsal ini adalah tempat para
opsir prajurit dalem saat menghadap raja.
Selain itu, juga sebagai tempat untuk
menjatuhkan hukuman dan amarah kepada para
putra, keluarga raja, dan abdi dalem yang
berdosa kepada karaton dan negara.
Sedangkan nama marcukundo memiliki beberapa
versi dalam arti, antara lain:
-
Dalam bahasa Jawa, berarti kanda
kang sereng atau perkataan yang
keras.
-
Dalam bahasa Kawi, berarti sebagai
tempat api menyala, atau lebih jauh
dianggap sebagai
-
Dalam Bahasa Arab, berasal dari kata
marudsul kudloh, yang berarti
melepaskan utusan yang harus
dilaksanakan.
Masih di kawasan Srimanganti, setelah
melalui halaman Srimanganti, sampailah ke
pintu masuk Karaton Dalem atau Karaton Inti,
yang disebut Kori Srimangati Lor. Di atas
pintu atau kori ini, terdapat gambar simbol
Sri Makuto Rojo seperti yang berada di Kori
Kamandungan, dimana pada bagian bawahnya
terdapat tulisan angka Romawi MDCC LXXX atau
tahun Belanda 1787 dan juga terdapat
tulisan Jawa: ga – la – ga – pa, yang
berarti 1718 tahun Jawa, pada masa
pemerintahan PB IV. Selain itu, di bagian
kanan kiri atas Kori, terdapat gambar kapas
dan padi yang merupakan sebagai simbol dari
negara yang subur dan makmur.
Selanjutnya, disebelah Timur kori tersebut
terdapat sebuah ruang yang menghadap ke
Barat, yang digunakan sebagai Kantor Wedono.
Pada bagian atas pintu ruang tersebut,
terdapat gambar lambang kerajaan yang
dibawahnya terdapat gambar persenjataan
karaton. Gambar tersebut adalah sebagai
simbol bahwa karaton atau raja mempunyai
kewajiban untuk dapat memadamkan semua
perselisihan dan menciptakan suasana
persatuan dan kesatuan. Selain itu, gambar
tersebut juga merupakan candra sengkala pada
saat membangun pagar tembok dalam istana,
dimana senjata = 5; kasalira = 8; rasaning =
6; dan narendra = 1, sehingga dapat dibaca
sebagai tahun 1685 Jawa.
Disebelah Barat Kori Srimanganti Lor juga
terdapat sebuah ruang yang menghadap ke
Timur, dimana diatas pintunya terdapat
gambar manusia yang memakai senjata
beranekaragam. Hal tersebut diartikan
sebagai simbol bahwa Ratu itu murba wasesa
atau berkewajiban mengadili dan menghukum
orang yang berdosa. Selain itu juga
digunakan sebagai sengkalan yang menunjuk
pada tahun 1685 Jawa, dimana senjata = 5;
tepung = 8; rasaning = 6; dan janma = 1.
Selanjutnya, di belakang Kori Srimanganti
Lor terdapat dinding tembok yang dipasang
kaca cermin besar. Hal ini menyiratkan
simbol bahwa manusia telah mulai menginjak
pintu surga dan akan bertemu dengan jiwanya
sendiri.
Disebelah Timur Kori Srimanganti bagian
dalam, terdapat gambar Pasta Purasa yang
dibuang dan daun kapas yang menghadap ke
Selatan. Kemudian disebelah Barat kori
terdapat ruang yang berfungsi sebagai tempat
tunggu Nyai Regol. Diatas kori ruang
tersebut terdapat gambar makanan yang
dibuang dan daun kapas yang menghadap ke
Timur.
Secara keseluruhan, makna simbolis dari Kori
Srimanganti adalah, sebagai berikut:
-
Segala nafsu duniawi sudah harus
ditinggalkan tanpa ragu (seks,
makanan, pakaian, kebesaran, pangkat,
derajad, dst). Setelah semuanya
ditinggalkan, hal ini berarti sudah
mulai masuk kealam kasampurnan jati
atau pamoring Kawulo - Gusti.
-
Gambar Pasta Purasa dan Makanan di
Kori Srimanganti, seperti tersebut
pada Surat Paramayoga dan Yogayana,
adalah juga merupakan lambang Agama
Ciwa.