New Page 1


History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 

Srimanganti


Gerbang Srimanganti

Srimanganti adalah suatu kawasan yang terletak di sebelah Selatan Kamandungan. Srimangati adalah bentukan kata dari sri, yang berarti ratu, dan manganti, yang berarti menunggu. Sehingga dari namanya, tempat tersebut adalah tempat tunggu yang digunakan raja untuk menyambut tamu agungnya, atau juga dapat diartikan sebagai tempat tunggu bagi tamu, sebelum dipersilakan masuk ke dalam Karaton Dalem.

Halaman Srimangati, yang merupakan space penerima, dapat dicapai dari Kori Kamandungan menuju ke arah Selatan. Pada bagian Barat halaman Srimangati ini, terdapat bangunan besar menghadap ke Timur yang dinamakan Bangsal Marakata atau Smarakata, dimana nama lengkapnya adalah Bangsal Asmarakata. Kata asmarakata sendiri memiliki arti sebagai dawuh kang nengsemake atau perkataan yang menyenangkan. Istilah tersebut berasal dari bahasa Arab, marocog coto, yang berarti melestarikan apa adanya apapun yang telah digariskan atau ditakdirkan untuk terjadi.

Bangunan bangsal tersebut berfungsi sebagai tempat para Abdi Dalem Bupati Lebet yang akan menghadap Raja, dan juga sebagai tempat untuk pemberian hadian atau penghargaan bagi Para Abdi Dalem Lebet, serta untuk mewisuda para Abdi Dalem Panewu Mantri.

Dibagaian Timur halaman Srimanganti, terdapat bangunan besar menghadap ke Barat              (bersebelahan dengan Bangsal Smarakata), yang diberi nama Bangsal Mercukundo. Bangsal ini adalah tempat para opsir prajurit dalem saat menghadap raja. Selain itu, juga sebagai tempat untuk menjatuhkan hukuman dan amarah kepada para putra, keluarga raja, dan abdi dalem yang berdosa kepada karaton dan negara.

Sedangkan nama marcukundo memiliki beberapa versi dalam arti, antara lain:

  • Dalam bahasa Jawa, berarti kanda kang sereng atau perkataan yang keras.
  • Dalam bahasa Kawi, berarti sebagai tempat api menyala, atau lebih jauh dianggap sebagai
  • Dalam Bahasa Arab, berasal dari kata marudsul kudloh, yang berarti melepaskan utusan yang harus dilaksanakan.

Masih di kawasan Srimanganti, setelah melalui halaman Srimanganti, sampailah ke pintu masuk Karaton Dalem atau Karaton Inti, yang disebut Kori Srimangati Lor. Di atas pintu atau kori ini, terdapat gambar simbol Sri Makuto Rojo seperti yang berada di Kori Kamandungan, dimana pada bagian bawahnya terdapat tulisan angka Romawi MDCC LXXX atau tahun Belanda  1787 dan juga terdapat tulisan Jawa: ga – la – ga – pa, yang berarti 1718 tahun Jawa, pada masa pemerintahan PB IV. Selain itu, di bagian kanan kiri atas Kori, terdapat gambar kapas dan padi yang merupakan sebagai simbol dari negara yang subur dan makmur.

Selanjutnya, disebelah Timur kori tersebut terdapat sebuah ruang yang menghadap ke Barat, yang digunakan sebagai Kantor Wedono. Pada bagian atas pintu ruang tersebut, terdapat gambar lambang kerajaan yang dibawahnya terdapat gambar persenjataan karaton. Gambar tersebut adalah sebagai simbol bahwa karaton atau raja mempunyai kewajiban untuk dapat memadamkan semua perselisihan dan menciptakan suasana persatuan dan kesatuan. Selain itu, gambar tersebut juga merupakan candra sengkala pada saat membangun pagar tembok dalam istana, dimana senjata = 5; kasalira = 8; rasaning = 6; dan narendra = 1, sehingga dapat dibaca sebagai tahun 1685 Jawa.

Disebelah Barat Kori Srimanganti Lor juga terdapat sebuah ruang yang menghadap ke Timur, dimana diatas pintunya terdapat gambar manusia yang memakai senjata beranekaragam. Hal tersebut diartikan sebagai simbol bahwa Ratu itu murba wasesa atau berkewajiban mengadili dan menghukum orang yang berdosa. Selain itu juga digunakan sebagai sengkalan yang menunjuk pada tahun 1685 Jawa, dimana senjata = 5; tepung = 8; rasaning = 6; dan janma = 1.

Selanjutnya, di belakang Kori Srimanganti Lor terdapat dinding tembok yang dipasang kaca cermin besar. Hal ini menyiratkan simbol bahwa manusia telah mulai menginjak pintu surga dan akan bertemu dengan jiwanya sendiri.

Disebelah Timur Kori Srimanganti bagian dalam, terdapat gambar Pasta Purasa yang dibuang dan daun kapas yang menghadap ke Selatan. Kemudian disebelah Barat kori terdapat ruang yang berfungsi sebagai tempat tunggu Nyai Regol. Diatas kori ruang tersebut terdapat gambar makanan yang dibuang dan daun kapas yang menghadap ke Timur.

Secara keseluruhan, makna simbolis dari Kori Srimanganti adalah, sebagai berikut:

  1. Segala nafsu duniawi sudah harus ditinggalkan tanpa ragu (seks, makanan, pakaian, kebesaran, pangkat, derajad, dst). Setelah semuanya ditinggalkan, hal ini berarti sudah mulai masuk kealam kasampurnan jati atau pamoring Kawulo - Gusti.
  2. Gambar Pasta Purasa dan Makanan di Kori Srimanganti, seperti tersebut pada Surat Paramayoga dan Yogayana, adalah juga merupakan lambang Agama Ciwa.
 

© Copyright Karaton Surakarta