New Page 1


History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 

Sultan Agung (r. 1613-1645)


Gerbang Makam Ki Ageng Pandanaran di Tembayat

Merujuk penelitian de Jonge, Rouffaer mengemukakan adanya kesukaan menggunakan bilangan empat dalam istana Sultan Agung, pada tahun 1623 – sebagai isyarat adanya empat pejabat tinggi -- tetapi kemudian dibagi dua, dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan. Keempat mata angin utama dan keempat mata angin cabang ditambah dengan pusat menjadi bilangan sembilan, yang dipandang keramat. Begitu juga pada masa Kartasura menjadi ibukota Mataram II (1700), Patih "Luaran" (Patih Jaba) membawahkan delapan orang bupati "luaran" (Bupati Jaba). Angka sembilan ini ada hubungannya dengan adanya sembilan orang wali, yang menyebarkan agama Islam ke Jawa. (G.P. Rouffaer, Adatrechtbundel XXXIV, D, No. 81: 107)

Suatu perbandingan antara masa Jawa-Hindu dan masa Mataram Islam dapat menerangkan konsep raja sebagai mikrokosmos negara dan puncak hirarki-status dalam negara. Karena mikrokosmos sejajar dengan makrokosmos, raja Jawa-Hindu disamakan dengan dewa, terutama dewa Wishnu, dan permaisurinya disamakan dengan cakti dewa. Identifikasi raja-Dewa tidak berlaku lagi dalam masa Jawa Islam. Ajaran Islam menolak pengidentikan manusia dengan Tuhan, oleh karenanya Syekh Wali Lanang (Syeh Lemah Abang) yang dikenal dengan Syekh Siti Jenar, dikenai hukuman mati karena melawan arus dengan pemahaman para Wali, terutama dalam konsep tasawuf wujudiahnya. (Zoetmolder, 1935: 415) Ajaran Islam menempatkan Raja dalam kedudukan sebagai khalifah, yakni wakil Tuhan di dunia, yang bertugas memimpin manusia dan mengatur-mengelola bumi seisinya. Untuk itu kemudian para Raja Mataram Islam mendapatkan gelar "Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kalipatullah", seperti gelar yang diberikan kepada Amangkurat IV (1719-1724), "Prabu Mangku-rat Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kalipatullah".

Penghapusan penyetaraan raja-dewa oleh Islam tidak mengurangi pengaruh dan kekuasaan raja yang menyeluruh dan mutlak atas rakyatnya. Kehadiran Islam memang menjadi semangat baru dalam masyarakat Jawa, kehadirannya sekaligus memberikan inspirasi dan aspirasi bagi penataan baru masyarakat dan negara, terutama dalam hubungan sosial antar warga masyarakat, serta hubungan antara negara dan masyarakat. Karena ajaran Islam tidak hanya menyentuk masalah peribadatan individual dengan berbagai ritual, seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi juga mengandung pedoman-pedoman dan dorongan-dorongan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan manusia secara menyeluruh. Pandangan tentang ajaran Islam yang demikian, membuat para wali dan tokoh agama tidak bisa berdiam diri akan kondisi negara dan masyarakatnya.

 
 

© Copyright Karaton Surakarta