History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 
 
 

 

 
My WYSIWYG

Bangsal Witono

Di bagian belakang dari Bangsal Mangunturtangkil, terdapat bangsal besar terbuka, dengan orientasi ke empat arah mata angin (Keblat Pajupat), dengan citra arsitektur tajug (seperti Masjid, akan tetapi tidak memakai gulu meled) yang diberi nama Bangsal Witono. Pada awalnya, bangsal ini dibuat oleh PB III, yang kemudian dibangun kembali oleh PB IX yang ditandai oleh candrosengkolo yang berbunyi Inggiling Sitihinggil Kaesti Ratu, yang menunjuk tahun 1810 Jawa.

Bangsal Witono berfungsi sebagai tempat duduk para abdi dalem putri, para bedaya (penari), manggung, ketanggung, jaka palara-lara, emban, inya, ceti, parekan yang membawa syarat-syarat upacara raja disaat duduk di Singgasana Sitihinggil. Adapun materi upacara yang dibawa di dalam upacara tersebut, antara lain berujud: banyak dalang, sawunggaling, kukutuk mino, arda walika, yang kesemuanya dibuat dari emas; juga talempak, towok, tameng, pedang, panah, bramastra dan senjata senjata yang lain.

Dilihat dari fungsinya, ada sedikit perbedaan Bangsal Witono pada jaman Karaton Surakarta dengan jaman Karaton Demak Bintoro. Pada zaman Kraton Demak Bintoro, bangsal Witono dijadikan tempat musyawarah dari Sultan dengan Wali Songo. Nama Witono sendiri, sebenarnya berasal dari bahasa Arab Bachasal Watona, yang berarti  musyawarah memperbincangkan tanah air dan bangsa.

Disebelah Timur Bangsal Sewoyono dan Witono, terdapat dua bangunan bangsal, yaitu Fungsi keseharian dari Bangsal Gandekan Tengen adalah sebagai tempat para abdi dalem Agandek, dan bila saat upacara garebeg dan sebagainya, bangsal tersebut untuk tempat gamelan yang dibunyikan dalam upacara menghormati kedatangan Raja dengan irama kodok ngorek dengan Gong Kyai Sekardelima. Sedangkan untuk Bangsal Angun-angun memiliki fungsi untuk tempat membunyikan gamelan Gong Kyai Surak dan Kyai Kanigoro. Khusus untuk Bangsal Angun-angun ini sekarang, setiap hari Sabtu sore untuk, digunakan sebagai tempat membunyikan gamelan monggang patalon Kyai Singopuro

.
 

© Copyright Karaton Surakarta