|
History / Sejarah Silsilah Lands
|
| |
| |
|
|
| |
|
My WYSIWYG
Karaton Kartasura Keberadaan Karaton Surakarta secara prosesual sebegitu jauh tidak bisa dilepaskan dengan ikatan kerajaan pendahulunya yaitu Mataram. Kerajaan Mataram merupakan kerajaan di pedalaman Jawa yang didirikan oleh Panembahan Senopati (De Graaf: 1989 jilid 2, hlm. 289). Istilah pedalaman sengaja ditekankan di sini untuk membedakan dengan kerajaan pendahulunya yaitu Majapahit dan Demak yang letaknya tidak di pedalaman (hinterland) melainkan di dekat pantai. Pusat kerajaan Mataram berada di Kerta. Pusat kerajaan ini kemudian dalam perkembangan pemerintahan mengalami perubahan sebanyak tiga kali. Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I atau yang sering disebut Sunan Tegalarum, karena ia meninggal di Tegalarum, pusat pemerintahan dipindah ke Plered. Berturut-turut kemudian karaton dari Plered berpindah ke Wanakerta atau Kartasura ketika pemerintah Mataram di bawah Sunan Amangkurat II, karena kondisi pusat kerajaan yang rusak akibat perlawanan Trunajaya (De Graaf: 1987 jilid 5, hlm. 11-15), dan akhirnya berpindah ke Sala atau Surakarta setelah tragedi peristiwa Geger Pacina tahun 1742. Perpindahan karaton Mataram dari Kartasura ke Surakarta banyak ditentukan oleh kondisi karaton Kartasura yang rusak terbakar akibat peristiwa Geger Pacina. Kondisi kerusuhan di Kartasura dimulai ketika tahun 1740 pemerintahan VOC memberlakukan kebijakan pengurangan penduduk Cina di Batavia karena semakin banyaknya penduduk Cina di sana serta semakin kuatnya ekonomi mereka. Kebijakan ini menimbulkan kegelisahan di kalangan penduduk Cina di Batavia. Akibatnya terjadi perlawanan orang-orang Cina terhadap VOC. Kuatnya tekanan tentara Kumpeni terhadap perlawanan orang-orang Cina menyebabkan mereka banyak yang lari ke wilayah timur Batavia. Dalam pelarian ke wilayah timur para pejuang Cina mendapat dukungan dari para bupati di wilayah pasisiran. Selain itu bantuan terhadap kaum pejuang Cina juga diperoleh pihak penguasa Mataram Kartasura, yaitu Paku Buwana II sekalipun tidak secara terus terang, yaitu melalui patih kerajaan yang bernama Adipati Natakusuma. Dukungan ini dilakukan setelah Sunan melihat sepak terjang perlawanan pejuang Cina yang luar biasa di Kartasura (Babad Pacina, hlm. 56). Akan tetapi keragu-raguan pihak Paku Buwana II segera muncul ketika pusat VOC di timur Batavia yaitu di Semarang (wilayah Noord-Oost Kust) tidak segera jatuh ke tangan pihak orang-orang Cina. Secara taktis Sunan akhirnya berpihak kembali kepada Kumpeni serta kemudian menangkap patihnya sendiri Adipati Natakusuma, yang akhirnya dibuang ke Sailon. Sekalipun kekuatan kelompok Cina diragukan oleh Sunan, namun sebaliknya meraka bahkan memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Dukungan itu antara lain berasal dari Bupati Pati, Mangunoneng serta Bupati Grobogan Martapura. Bahkan pihak pejuang berhasil menempatkan cucu Amangkurat III, yaitu Mas Garendi sebagai penguasa Kartasura yang kemudian terkenal dengan gelarnya Sunan Kuning. Selanjutnya Kartasura sendiri berada di bawah kontrol pihak pejuang (Serat Perjanjian Dalem Nata, hlm. 27). Pada tahun 1742 keadaan kartasura hampir tidak dapat dikuasai oleh penguasa lama, yaitu Paku Buwana II. Akhirnya pada tahun itu juga raja beserta seluruh kerabat dan pengikutnya meninggalkan karaton mengungsi menuju Panaraga, melalui Laweyan. Kerabat dekat raja yang setia mengikuti di antaranya adalah Pangeran Mangkubumi, serta Patihnya yaitu Tumenggung Pringgalaya (Yasadipura: Serat Babad Surakarta: 1932, hlm. 14; Babad Pacina ,hlm. 60). Sementara kepergian raja yang telah menjadikan kevakuman pemerintahan, menjadikan kepemimpinan Surakarta dapat digambarkan sangat kacau. Pihak pejuang menguasai Kartasura. Banyak bangsawan kerabat dekat raja sendiri melahan menjadi pendukung mereka seperti Pangeran Prangwadana, Pangeran Harya Buminata, serta pangeran Harya Singasari. Pada tahun 1743 kota Kartasura dapat direbut kembali meskipun dalam keadaan rusak parah. Penguasaan kembali Kartasura itu berkat bantuan Kumpeni beserta dukungan para bupati mancanegara, seperti Bupati Madura, Madiun, Panaraga, Jagaraga, Keduwang, serta Magetan. Sekalipun Sunan sudah dapat meninkmati kekuasaannya kembali, tetapi bukan berarti semuanya sudah beres. Perlawanan dari pihak pendukung pejuang Cina masih terjadi. Justru mereka itu berasal dari kerabat dekat raja. Mereka adalah: Pangeran Harya Buminata dari Sembuyan, Pangeran Prangwadana, Tumenggung Sujanapura, serta Pangeran Harya Singasari dari Keduwang. Kondisi Karaton Kartasura yang sudah rusak serta suasana perlawanan pihak kerabat yang tidak kunjung reda menjadikan Sunan Paku Buwana II yang telah menempati tahtanya kembali mempunyai rencana untuk mencari tempat lain pengganti Kartasura. Hal demikian sudah menjadi kebiasaan manakala kerajaan sudak tidak mungkin dipertahankan lagi. Selain itu juga karena adanya anggapan umum di Jawa bahwa karaton yang rusak sebaiknya tidak perlu ditempati karena sudah kehilangan wahyu lagi. Karena itu sebaiknya ditinggalkan. Ide untuk mencari karaton baru itu sempat disampaikan kepada Patih Pringgalaya. Dalam pembicaraan yang serius akhirnya diputuskan untuk mencari tempat di sebelah timur karaton lama yang telah rusak. Dalam rangka pencarian tempat alternatif pengganti karaton itu raja mengutus beberapa orang seperti Patih Jawi Adipati Pringgalaya, Patih Lebet Adipati Sindureja, mayor Higendorp, serta beberapa ahli nujum seperti Tumenggung Hanggawangsa, Mangkuyuda, serta Puspanegara. Beberapa pilihan akhirnya didapat. - Desa Kadipala. Daerah ini dianggap cukup ideal, tetapi para ahli nujum agak berkeberatan karena cepat memperoleh malapetaka sekalipun mungkin mampu mengalami kemakmuran.
- Desa Sana Sewu. Mengenai tempat ini Tumenggung Hanggawangsa kurang bisa menyetujui, karena menurut ramalannya tempat ini bisa menimbulkan perang saudara di Jawa.
- Desa Sala. Untuk wilayah ini, sekalipun menurut pertimbangan Hogendorp kurang memadahi akibat tekstur tanah yang rendah dan berawa-rawa tetapi sebaliknya Tumenggung Hanggawangsa berkat keahlian nujumnya justru menyetujui mengenai pertimbangan memilih desa Sala ini sebagai pengganti karaton lama.
Setelah diadakan musyawarah, para utusan memilih desa Sala sebagai calon satu-satunya utnuk tempat berdirinya istana baru. Keputusan musyawarah ini kemudian diberitahukan kepada Sunan di Kartasura. Setelah menerima laporan para utusan tersebut Sunan memerintahkan beberapa orang abdi dalem untuk memastikan tempat itu. Para Abdi Dalem itu adalah, Panembahan Mijil, Abdi Dalem Suranata, Kyai Ageng Kalifah Buyut, Mas Penghulu Fakih Ibrahim, serta seorang pujangga istana yaitu Raden Tumenggung Tirtawiguna. Proses pembangunan karaton di Desa Sala berlangsung pada tahun 1743 hingga 1745. Setelah segala persiapan dianggap selesai, pada hari Rabu pahing, 17 Sura, sesengkalan "Kambuhing Puja Asyara in Ratu" (1670 Jawa = 1745 Masehi, atau 17 Februari 1745), merupakan hari perpindahan dari Karaton Kartasura ke Karaton Surakarta, yang selanjutnya menjadi Karaton Surakarta Hadiningrat.
.
|
|