History / Sejarah Silsilah Lands

  :: English ::
History / Sejarah

- Sejarah & Perkembangan
- Mataram Islam

- Sultan Agung
- Karaton Kartasura

- Pakubuwono I
- Amangkurat IV

- Pakubuwono II
Ancestry / Silsilah
Landscape
- Gapuro Gladag
- Alun-alun Lor

- Masjid Agung
- Pagelaran & Sitihinggil

- Pagelaran Sasonosumewo
- Bangsal Pangrawit

- Sitihinggil Binoto Waroto
- Bangsal Witono
- Kori Brojonolo Lor

- Baleroto
- Kori Kamandungan

- Srimanganti
Pakasa
F  A  Q
Kontak
Home
 


Karaton Surakarta book offer, printed full color 412 pages on lumisilk paper, 176 gsm, end paper: tomohawk warm white, 176 gsm, jacket: art Carton, 190 gsm, hard cover.
Inquiry,
please fill contact form.

 
 
 

 

 
My WYSIWYG

Kori Brojonolo Lor

Berdasarkan namanya, Brojonolo berasal dari bentukan dua kata, brojo yang berarti senjata tajam, dan nolo yang berarti hati. Sehingga Kori Brojonolo memiliki beberapa makna simbolitis, sebagai berikut:

  1. Manusia yang mempunyai keinginan untuk mencapai kesempurnaan akhir, harus mempunyai ketajaman budi yang didasari oleh laku  prihatin kepada dirinya sendiri; dan kemudian senjata yang dipakai hanyalah hati atau perasaan. Karena itu manusia yang melewati tempat tersebut, haruslah manusia yang mempunyai rasa dan menggunakan rasa perasaannya yang terdalam untuk, sebagai dasar untuk berprilaku.
  2. Kori Brojonolo yang sedemikian besar, merupakan barang langka, sehingga bagi Kadewatan disebut sebagai simbol dari AGAMA KALA, seperti yang tertulis dalam Masih disekitar Brojonolo, tepatnya disebelah timur kori Brojonolo terdapat bangunan panggung yang merupakan tempat lonceng waktu yang besar, yang disebut Jam Panggung, dimana pada masa itu, setiap pergantian jam, lonceng tersebut dibunyikan. Berdasarkan mitos yang ada, konon pada jaman Kehendran, jam tersebut disebut Genta Kekeleng, yang dibunyikan untuk mengumpulkan para Dewa bila terdapat keperluan.

Selanjutnya, disebelah Selatan Kori Brojonolo, terdapat arca kembar yang terbuat dari batu, yang menggambarkan raksasa yang membawa senjata gada. Hal ini merupakan simbol yang diambil dari jaman Kehendran, dimana kori pintu masuk ke Suroloyo dijaga oleh Dewa raksasa yang bernama Cingkorobolo dan Boloupoto.

Berdasarkan buku Tapel Adam, keberadaan Arca dan Genta, dapat dikatakan sebagai simbol dari Agama Budha, sedangkan bagi laku kebatinan, semua itu mengandung simbol bahwa manusia tidak boleh ragu-ragu dalam melakukan sesuatu (bahasa Jawa: mandeg tumoleh), karena sesuatu hal atau perwujudan apapun juga.

.
 

© Copyright Karaton Surakarta