|
History / Sejarah Silsilah Lands
|
| |
| |
|
|
| |
|
My WYSIWYG
Pagelaran & Sitihinggil Dimulai dari kawasan disebelah Timur dan Barat dari Waringin Gung dan Waringin Binatur, dimana pada terdapat tiga meriam yang ditempatkan dua disebelah Timur Waringin Gung dan yang satu berada disebelah Barat Waringin Binatur. Adapun meriam-meriam itu sekarang sudah dipindah lokasinya didekat pintu masuk Kori Wijil kearah Sitihinggil. Ketiga meriam itu memiliki nama dan arti simbolisnya masing masing. Nama dan simbol-simbol tersebut adalah: - Meriam yang berada di posisi paling Timur, diberi nama KYAI PANCAWARA. Nama tersebut diilhami oleh suara meriam itu sendiri, yang konon sangat keras seperti suara lima meriam yang dibunyikan bersamaan. Selain itu, nama tersebut juga mengandung sengkalan memet: Pan = pandito = 7 – ca = carem = 6 – wa = wuruking = 5 – ra = ratu = 1, atau menunjuk tahun 1567 Jawa, yaitu merupakan peninggalan Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Karaton Mataram Islam.
- Meriam yang berada di tengah, KYAI SYUHBRASTO, dan meriam yang berada di posisi paling Barat adalah KYAI SEGORO WONO. Berdasarkan dokumen yang ada, kedua meriam tersebut berasal dari Eropa. Kedua meriam tersebut diberi nama seperti diatas oleh PB VII. Makna simbolis dari nama pemberian PB VII tersebut adalah untuk memperingati berkurangnya kekuasaan dan kewenangan beliau atas pelabuhan dan hutan jati, yang diminta Belanda sebagai upah bantuan. Syuhbrasto mempunyai arti hilang atau rusak, sedangkan Segoro diartikan sebagai pelabuhan dan Wono diartikan sebagai hutan jati. Disebelah Barat meriam Kyai Segorowono terdapat tugu peringatan 200 tahun berdirinya Karaton Surakarta, yang dinamakan tugu TOMAS WARSO yang berbentuk seperti bom, yaitu suatu bentuk yang baru diketahui maknanya setelah ada Perang Jepang, dimana pada saat itu kota Sala dijatuhi bom.
Disebelah Timur meriam Kyai Pancawara dan disebelah Barat Tugu Tomaswarso, terdapat bangunan bangsal dengan konstruksi atap limasan terbuka, yang dinamakan BANGSAL PEMANDENGAN, yaitu tempat menyediakan Kuda Pandengan (kuda yang khusus untuk dinaiki Raja). Pada bangsal tersebut untuk bagian Timur diberi peralatan simbol kerajaan dan yang berada disebelah Barat diberi peralatan khusus keprajuritan (sekarang sudah tidak ada). Disebelah Timur dan Barat Bangsal Pamandengan terdapat dua buah bangsal dengan konstruksi limasan terbuka dan kolom pilar bulat yang diberi nama BANGSAL PARETAN. Kedua bangsal tersebut berfungsi sebagai bangsal untuk menyiapkan kendaraan Kereta Kerajaan pada saat raja akan mengadakan tinjauan lapangan, dimana Bangsal Paretan sebelah Timur digunakan untuk menyiapkan Kereta Raja, dan bangsal Paretan sebelah Barat untuk menyiapkan kereta KGPA Anom. Pada jaman dulu, disebelah Utara Bangsal Paretan terdapat tambatan gajah atau WANTILAN yang terbuat dari kayu jati besar bulat. Tambatan ini biasanya digunakan untuk menambatkan gajah pada peringatan Gerebeg, yang diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam setahun. Pada perayaan Gerebeg tersebut biasanya terdapat dua ekor gajah yang diberi atribut pelana merah, dan pada bagian mukanya dihias hingga menyerupai rupa gajah dalam ceritera wayang kulit. Secara simbolis, gajah disini merupakan simbol dari keperkasaan dan ketangguhan seorang Raja Jawa. Masih sekitar binatang sebagai suatu simbol, di sudut alun-alun Utara arah Selatan-Timur (disebelah Timur Bangsal Paretan bagian Timur), pada jaman dulu digunakan sebagai kandang harimau, dimana harimau pada saat itu digunakan sebagai lambang dari kewibawaan raja. Masih di sekitar Bangsal Paretan, di sebelah Utara-Timur bagian Timur, terdapat Bangsal PATALON, yang pada jaman dulu digunakan sebagai tempat membunyikan gamelan KYAI SINGOKRUNGU pada setiap hari Sabtu sore, mengiringi latihan perang yang disebut WATANGAN. Watangan adalah latihan perang yang diadakan di alun-alun Utara, dibagian sebelah selatan Ringin Kurung Sakembaran, dimana prajurit melakukan latihan berperang memakai tombak diatas kuda.
.
|
|