Pasinaon Sejarah

Hajad Dalem Malem Selikuran Warsa Je 1958 Jawa

Museum & Tourism Karaton Surakarta
November 2, 2024

Malem Selikuran adalah adalah adat peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta di Taman Sriwedari pada 21 Ramadhan. Tradisi ini diilhami oleh Serat Ambya yang menyebutkan bahwa tiap tanggal gasal sejak tanggal 21 bulan Ramadhan Nabi Muhammad SAW, turun dari gunung Nur setelah menerima wahyu ayat-ayat suci Al-Quran. 1

Sejarah Malem Selikuran 

Upacara Malem Selikuran awalnya konon dilaksanakan di Kagungan Dalem Masjid Agung Keraton Surakarta, sebelum akhirnya upacara Malem Selikuran dipindahkan ke Taman Sriwedari, oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X.2 Pada awal penyelenggaraannya, upacara ini tidak hanya dilangsungkan di tanggal 21 Ramadhan namun juga pada tanggal-tanggal ganjil setelahnya, yaitu 23, 25, 27 dan 29. Pada tanggal 21 Ramadhan upacara ini dihadiri oleh Pepatih Dalem, Pangulu Dalem dan Abdi Dalem Ngulama sementara pada tanggal 23 dihadiri oleh putra-putra Sentana Dalem. Pada tanggal 25, Pepatih Dalem kembali hadir. Tanggal 27 dihadiri oleh para Sentana Dalem sementara pada malam ganjil terakhir yaitu tanggal 29 disebut Malem Jagal. Untuk malam-malam genap tidak dillaksanakan prosesi, sehingga dikenal dengan sebutan Malem Lowong atau kosong.3

Malem Selikuran di Taman Sriwedari dimulai pertama kali sejak era Sri Susuhunan Paku Buwana X. Upacara ini dimulai dengan kirab arak-arakan dari Keraton menuju Taman Sriwedari. Pada era Paku Buwana X kirab diawali oleh Kyai Siswanda kereta harian Sri Susuhunan Paku Buwana X, kemudian berturut-turut diikuti oleh barisan pusaka Keraton, barisan jodhang yang dipagari dengan iringan lampu ting.4

Prosesi Malem Selikuran

Tradisi Malem Selikuran di era sekarang dilakukan dengan mengarak jodhang yang diiringi dengan lampu (ting) dari Keraton Surakarta menuju Taman Sriwedari. Jodhang berisi nasi tumpeng yang diarak sebanyak seribu buah. Tumpeng tersebut diletakkan dalam Ancak-cantoka dalam formasi berjajar dua-dua dan diapit oleh para Abdi Dalem Keraton.


Ketika rombongan tumpeng sampai di Taman Sriwedari, kemudian tumpeng tersebut didoakan oleh pemuka agama keraton. Setelah selesai, tumpeng akan dibagikan kepada para Abdi Dalem pengiring serta masyarakat yang ada di Taman Sriwedari. Berbeda dengan Grebeg, tumpeng seribu dibagikan tanpa adanya rayahan atau berebut.

Malem Selikuran di Taman Sriwedari dimulai pertama kali sejak era Sri Susuhunan Paku Buwana X. Upacara ini dimulai dengan kirab arak-arakan dari Keraton menuju Taman Sriwedari.

Unsur penting dan makna malem selikuran keraton Kasunanan Surakarta diantaranya adalah :

Lampu Ting

Lampu ting adalah lampu penerang atau pelita yang berjumlah cukup banyak sebagai penerang dalam prosesi malem selikuran.Lampu ting akan dibawa para Abdi Dalem mengiringi jalannya kirab dari keraton Surakarta menuju Taman Sriwedari.. Lampu ting ini, melambangkan cahaya obor yang digunakan para sahabat Nabi ketika menyambut Nabi Muhammad turun dari Jabal Nur dalam keremangan malam. Kirab dengan membawa lampu ting seolah menjadi peringatan tentang cahaya atau nur yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Tumpeng seribu

Tumpeng kecil berjumlah seribu diletakkan dalam takir ( tempat nasi dari daun pisang) Tiap takir terdiri dari nasi gurih,kedelai hitam, rambak, cabe hijau dan mentimun. Seribu tumpeng bermakna pahala yang didapatkan ketika ikhlas beribadah di malam Lailatul Qadar.

Ancak Cantoka

Ancak cantoka berjumlah 24 berada dibelakang barisan lampu ting. Ancak artinya tempat makanan,sedangkan cantoka artinya kodok. Ancak cantoka dapat dipahami sebagai jodang ukuran kecil yang bentuknya seperti kodok terbuat dari besi dan kuningan. Dalam jodang tersebut berisi takir-takir nasi beserta ubo rampenya.

Daftar Pustaka : 
1. Bauwarna, Yayasan Surya Sumirat
2. Mekarsari.1990, Panjebar Semangat. (1988, Juni 4). Tradhisi Malem Selikuran ing Solo.
3. Mekar Sari. (1989, Mei 2). Mula Bukane Maleman Sriwedari. 
4. Bauwarna, Yayasan Surya Sumirat

Share this post
Tag 1
Tag 2
Tag 3
Tag 4